eksposisiborneo.com, KUBAR – Kondisi debu yang perparah dengan kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di jalur alternatif kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) menjadi keluhan pengguna jalan yang melintasi rute penghubung Melak – Kota Bangun – Samarinda.
Kondisi tersebut dinilai menambah risiko perjalanan, terutama ketika jarak pandang terbatas dan pengendara harus menghadapi jalan yang berdebu.
Keluhan itu disampaikan Donny Liah, warga Mahakam Ulu (Mahulu), yang rutin melintasi jalur alternatif tersebut. Menurutnya, di tengah kondisi jalan yang sulit dan jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap, tentu perjalanan membutuhkan kewaspadaan ekstra.
“Semoga ini bisa jadi perhatian serius,” kata Donny, Jumat (16/10/2026).
Persoalan tidak hanya terletak pada debu yang beterbangan ketika kendaraan melintas. Kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut turut membatasi jarak pandang, sehingga pengendara harus lebih berhati-hati saat mengantisipasi kondisi jalan di depan.
Bagi masyarakat yang melakukan perjalanan dari wilayah pedalaman menuju Samarinda, jalur alternatif ini menjadi pilihan di tengah kondisi jalur utama yang dinilai masih memprihatinkan pada sejumlah titik.
Namun, pilihan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri ketika debu dan kabut asap mengganggu perjalanan.
Jalur HTI Jadi Pilihan di Tengah Kerusakan Jalan Utama
Donny menilai, jalur alternatif tersebut memiliki arti penting bagi konektivitas Masyarakat Kutai Barat (Kubar) dan Mahulu, khususnya untuk menunjang mobilitas menuju ibu kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di Samarinda.
“Jalan ini bukan sekadar jalur alternatif, tetapi urat nadi konektivitas dan harapan bagi masyarakat Kubar dan Mahulu, untuk tetap terhubung dengan ibu kota provinsi. Apalagi jalur utama saat ini kondisinya belum sepenuhnya bagus,” ujarnya.
Menurut Donny, perjalanan melalui jalur alternatif kawasan HTI membutuhkan waktu sekitar enam hingga tujuh jam. Sementara, melalui jalur utama, perjalanan dapat mencapai 10 hingga 12 jam, terutama karena kondisi sejumlah ruas jalan yang masih memprihatinkan.
Ia berharap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan lebih diintensifkan agar kabut asap tidak terus mengganggu aktivitas dan keselamatan masyarakat.
Donny juga berharap, perbaikan jalur utama mendapat perhatian lebih serius sehingga masyarakat memiliki pilihan akses perjalanan yang lebih aman dan nyaman. (eb/02)


