eksposisiborneo.com, Kubar – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Jumat (3/7/2026), untuk meninjau sejumlah agenda pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta kegiatan kemasyarakatan.
Gubernur Rudy Mas’ud tiba di Melak Ilir, Kecamatan Melak, lewat jalur darat bersama sang istri, Sarifah Suraidah, dan rombongan Pemerintah Provinsi Kaltim. Kedatangannya disambut Bupati Kubar, Frederick Edwin, Wakil Bupati Nanang Adriani, serta jajaran Forkopimda.
Kedatangan Gubernur Rudy Mas’ud disambut dengan pengalungan selempang dan pemasangan peci doyo khas Kubar, sebagai bentuk penghormatan sekaligus cinderamata bagi tamu kehormatan.
Dalam pertemuan singkat itu, Rudy Mas’ud sempat menanyakan salah satu proyek infrastruktur yang paling dinantikan masyarakat Kubar, yakni kelanjutan pembangunan Jembatan Aji Tulur Jejangkat (ATJ).
“Bagaimana kabar jembatan kita?” tanya Gubernur Rudy Mas’ud kepada Bupati Frederick Edwin.
Pertanyaan tersebut langsung dijawab Frederick Edwin.
“Mulai tahun depan pak,” ujar Edwin singkat.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal positif bagi kelanjutan pembangunan Jembatan ATJ yang selama ini menjadi perhatian masyarakat karena dinilai strategis dalam mendukung konektivitas wilayah, setelah lama mangkrak.
Sejumlah Agenda Gubernur Kaltim di Kubar
Kunjungan kerja Gubernur Kaltim ke Kutai Barat dijadwalkan berlangsung hingga 5 Juli 2026 dengan sejumlah agenda peninjauan pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta dialog bersama masyarakat.
Pada 4 Juli, Rudy Mas’ud dijadwalkan meninjau penanganan ruas Jalan poros Asa–Juaq Asa melalui paket Bantuan Keuangan Tahun Anggaran 2025 untuk Kubar. Ruas tersebut mendapat penanganan sepanjang 2 kilometer dengan konstruksi rigid beton.
Usai peninjauan infrastruktur jalan, agenda dilanjutkan dengan peresmian SMKN 3 Sendawar.
Selanjutnya, Gubernur Kaltim menghadiri Tabligh Akbar Kesyukuran Khitan Massal dalam rangka Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning yang menghadirkan Abdul Somad.
Sementara pada 5 Juli, agenda berlanjut dengan peninjauan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah Tanjung Isuy dan Muara Tae.
Rangkaian kunjungan kerja ditutup dengan dialog bersama masyarakat di tiga desa kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yakni Deraya, Tanjung Soke, dan Gerunggung, Kecamatan Bongan. (Adv/ed/002)


