eksposisiborneo.com, Samarinda: Di sebuah rumah sederhana di Samarinda, Maria Oktaviani Kerawing (35) setiap pagi menata adonan, menyiapkan kulit, dan merapikan isian kebab racikannya. Dari dapur kecil itu, lahir sebuah usaha yang kini tumbuh melampaui dugaan, “Bibian Kebab”, kebab frozen buatan tangan seorang ibu yang awalnya hanya ingin menyiapkan bekal untuk anaknya.
“Awalnya cuma iseng bikin bekal untuk anak saya, ternyata malah jadi usaha beneran,” kata Via, Jumat (5/12/2025).
Bibian Kebab tidak lahir dari modal besar, melainkan dari momen sederhana ketika teman-teman anaknya mencicipi kebab buatan Via dan menyukainya. Dorongan orang tua murid membuatnya memberanikan diri menitipkan kebab di kantin sekolah.
“Pas di coba hari itu langsung habis dalam sehari. Dari situ orang tua murid banyak pesan karena praktis buat bekal,” katanya.
Dari titik itu, langkah Via melebar. Ia mulai memproduksinya lebih banyak, menyusun kebab-kebab mini itu rapi ke dalam kotak sebelum membekukannya di freezer. Meski sederhana, ia menjaga betul kebersihan dan kualitasnya.
“Kalau mau dimakan tinggal keluarkan dari freezer dan dipanggang sebentar di teflon,” ujarnya.
Harga Jual Bibian Kebab
Satu kotak berisi 10 kebab mini dihargai Rp50 ribu, terjangkau bagi keluarga, pekerja kantoran, hingga ibu-ibu yang ingin sajian praktis untuk anaknya. Dari mulut ke mulut dan unggahan sederhana di media sosial, pesanan pun berdatangan.
“Sering aku posting di story, lama-lama banyak yang penasaran dan akhirnya order,” ujar Via.

Tak butuh waktu lama, kebab buatan tangan Via merambah keluar Samarinda. Dari kota, kini ia mengirim hingga Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu). Wilayah pedalaman yang biasanya identik dengan akses sulit, justru menjadi tujuan rutin pengiriman kebabnya.
“Banyak yang pesan, sampai saya kirim ke Mahulu. Mereka bilang rasanya cocok dan praktis,” ucap Via.
Di balik keberhasilan itu, Via punya perjuangannya sendiri: menjaga kebab tetap beku selama perjalanan panjang. Untuk itu ia mengemas kotak-kotak itu ke dalam wadah berisi es, memastikan suhu tetap stabil meski perjalanan ditempuh dengan mobil, kapal, atau speedboat.
“Pokoknya harus dingin terus. Biasanya isi ulang es batu tiap tiga atau empat jam biar kebab tetap beku sampai tujuan,” tutupnya.
Dari dapur rumahnya, Via tak hanya sedang membangun usaha. Ia sedang menata harapan baru, bahwa ide sederhana, jika dikerjakan dengan ketekunan, bisa merambah hingga pedalaman Mahulu dan menjadi sumber rezeki yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. (eb/002)


