eksposisiborneo.com, Mahulu : Nonton bareng (nobar) final Piala Dunia FIFA 2026 di Tribun Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Senin (20/7/2026) dini hari, tak sekadar menjadi ajang menyaksikan pertandingan antara Spanyol dan Argentina.
Momentum tersebut dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Mahulu, untuk memperkenalkan pangan lokal kepada masyarakat melalui pembagian makanan tradisional dan minuman jahe hangat secara gratis.
Berbeda dengan kebiasaan menyediakan makanan cepat saji, panitia menyajikan jagung rebus, ubi rebus, pisang rebus, serta kacang rebus yang dapat dinikmati masyarakat selama acara berlangsung.
Sajian tersebut menjadi bagian dari upaya mengajak masyarakat kembali mengonsumsi pangan lokal yang dinilai lebih sehat sekaligus mudah diperoleh, tidak terkecuali di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut.
Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, mengatakan penyajian makanan tradisional dalam kegiatan yang dihadiri banyak Masyarakat merupakan salah satu cara mengenalkan kembali potensi pangan lokal.
“Harapan kita, olahan seperti ini bisa membangkitkan minat masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi pangan lokal,” ujar Suhuk.
Layak Jadi Pilihan dalam Berbagai Kegiatan Masyarakat
Selain makanan rebus, panitia juga membagikan minuman jahe hangat secara gratis kepada seluruh penonton. Hidangan tersebut menambah kehangatan suasana nobar sekaligus memperkenalkan alternatif konsumsi yang lebih sehat dibandingkan makanan olahan cepat saji.
Menurut Suhuk, makanan rebus layak menjadi pilihan dalam berbagai kegiatan Masyarakat, karena proses pengolahannya lebih sederhana dan tidak menggunakan banyak minyak.
“Ini lebih sehat karena jauh dari olahan gorengan yang banyak lemak,” katanya.
Penyediaan pangan lokal menjadi salah satu daya tarik dalam pelaksanaan nobar final Piala Dunia di Mahulu. Banyak warga memanfaatkan jeda pertandingan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia sambil berbincang bersama.
Melalui kegiatan tersebut, menurut Sukuk, Pemkab Mahulu ingin menunjukkan bahwa agenda hiburan tidak hanya menjadi ruang kebersamaan masyarakat, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi untuk memperkenalkan pangan lokal dan mendorong masyarakat semakin bangga mengonsumsi hasil pangan daerah. (Adv)


