eksposisiborneo.com, Kubar – Di tengah derasnya arus digital yang membuat banyak anak menghabiskan waktu di depan layar gawai, suasana berbeda masih terlihat di Kampung Long Iram Kota, Kecamatan Long Iram, Kutai Barat (Kubar).
Menjelang sore, tepian Sungai Mahakam berubah menjadi ruang bermain alami. Di atas rakit-rakit kayu sederhana, anak-anak berlarian, berenang, melompat ke air, lalu kembali naik ke rakit sambil tertawa lepas.
Tak ada wahana permainan modern, namun Sungai Mahakam telah menjadi taman bermain yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemandangan itu terlihat dari Adi dan Mardan. Keduanya menikmati sore dengan mandi dan berenang di sungai, aktivitas yang sudah menjadi rutinitas hampir setiap hari sepulang sekolah.
“Kalau sore biasanya kami mandi di sungai sama teman-teman. Habis itu baru pulang ke rumah,” ujar Adi, Selasa (7/7/2026).
Bagi masyarakat Long Iram Kota, Sungai Mahakam bukan sekadar bentang alam. Sungai merupakan denyut kehidupan warga, mulai dari jalur transportasi, tempat mencari ikan, hingga ruang bermain yang membentuk masa kecil anak-anak di kawasan tepian sungai.
Rakit-rakit kayu yang bersandar di tepi Mahakam menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Saat permukaan air naik atau surut mengikuti musim, aktivitas warga ikut menyesuaikan.
Namun bagi anak-anak, perubahan itu justru menjadi pengalaman baru untuk mengenal alam tempat mereka tumbuh.
“Senang mandi di sini. Airnya dingin, bisa berenang sama-sama,” kata Mardan.
Di tengah semakin terbatasnya ruang bermain terbuka bagi anak-anak, kehidupan di tepian Mahakam masih mempertahankan tradisi yang sederhana. Riak air, suara mesin perahu, serta semilir angin sungai menjadi bagian dari masa kecil yang mungkin tak lagi banyak ditemui di daerah perkotaan.
Meski demikian, aktivitas bermain di sungai tetap membutuhkan pengawasan orang tua. Arus Sungai Mahakam dapat berubah sewaktu-waktu sehingga keselamatan anak-anak tetap menjadi perhatian utama.
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, cahaya keemasan memantul di permukaan Mahakam. Adi dan Mardan masih menikmati sisa sore mereka. Sebuah potret sederhana yang menunjukkan bahwa di Long Iram, alam masih menjadi ruang belajar, ruang bermain, sekaligus bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. (eb/002)


