eksposisiborneo.com, Kubar : Pemerintah Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal melalui penyelenggaraan Festival Sarut, yang digelar setiap awal bulan Agustus sebagai agenda tahunan.
Sarut merupakan seni membuat pakaian khas dengan menjahit benang menjadi motif pada kain. Uniknya, benang yang digunakan berasal dari serat daun nanas. Kain sarut menjadi karya tangan masyarakat Suku Dayak Benuaq yang diwariskan turun-temurun.
Camat Damai, Iman Setiadi, Rabu (15/10/2025) mengatakan Festival Sarut menjadi ajang untuk melestarikan budaya lokal. Sarut juga menjadi salah satu potensi wisata budaya unggulan bagi Kecamatan Damai.
Dijelaskannya, komunitas pengrajin sarut aktif menjaga eksistensi tradisi seni dan budaya. Saat ini, telah ada 10 motif kain sarut yang memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
HKI tersebut, lanjut Iman, menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kecamatan Damai karena karya mereka telah diakui secara hukum dan memiliki nilai ekonomi.
“Festival Sarut ini juga sebagai bentuk promosi wisata seni dan budaya di Kecamatan Damai. Melalui festival itu, kita harap menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara,” ungkapnya.
Iman menambahkan, sejak memimpin Kecamatan Damai sekitar empat tahun terakhir, ia terus mendorong para petinggi kampung agar menampilkan ciri khas seni dan budaya masing-masing.
“Harapan kita, 17 kampung yang ada di Kecamatan Damai ini bisa mengangkat potensi wisata melalui seni dan budaya. Sehingga nantinya, seni dan budaya ini menjadi salah satu tujuan para wisatawan,” paparnya.
Untuk memperkuat regenerasi pelestarian budaya, pihak kecamatan juga mendorong agar pembelajaran menyarut dimasukkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah dalam wilayah Kecamatan Damai.(eb/Adv/Diskominfo Kubar)


