eksposisiborneo.com, Kubar : Ketua DPRD Kutai Barat (Kubar), Ridwai, menilai perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutai Barat ke-26 tahun ini berjalan meriah, namun masih membutuhkan pembenahan dari sisi penataan dan konsep penyelenggaraan. Ia menegaskan perlunya perubahan agar pelaksanaan HUT selanjutnya tidak hanya seremonial, tetapi juga meninggalkan fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Ridwai, pola penyelenggaraan kegiatan HUT yang berlangsung dari tahun ke tahun relatif tidak banyak berubah. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah melakukan evaluasi khususnya pada aspek pengadaan dan penataan area kegiatan yang masih bersifat sementara.
“Dalam perayaan hari jadinya Kabupaten Kutai Barat ini, ya boleh dikatakan masih seperti itu-itu saja. Nah, jadi ke depan harapan kita pola pengadaannya itu harus kita bisa perbaiki,” ujar Ridwai, Kamis (6/11/2025).
Salah satu sorotan utama Ridwai adalah keberadaan area kuliner dan tempat pameran UMKM yang tiap tahun dibangun sementara. Begitu kegiatan selesai, seluruh fasilitas dibongkar dan tidak tersisa sarana yang dapat dimanfaatkan ulang.
“Kalau kita lihat sekarang ini kan mereka punya ini masih sifatnya sementara. Artinya selesai ini langsung dibongkar. Jadi kalau saya punya pikiran, ke depan pemerintah memang harus menyiapkan tempat yang permanen,” jelasnya.
Ia berpandangan bahwa pembangunan fasilitas permanen seperti area wisata kuliner, ruang pamer UMKM, hingga galeri produk lokal akan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat. Selain menambah daya tarik kota, penataan yang baik juga menciptakan ruang publik yang nyaman dan estetis.
“Tempat itu harus tertata dengan baik, estetikanya kelihatan, artinya rapi dan bagus,” tambahnya.
Ridwai juga menyoroti perlunya pengelolaan tempat bagi pelaku UMKM secara lebih terencana. Lokasi khusus yang dapat dipakai secara berkelanjutan dinilai penting agar penjual pakaian tradisional, kerajinan tangan, dan berbagai produk lokal memiliki wadah promosi yang tetap.
“Dari sisi pengelolaan tempat pameran untuk mereka yang punya UMKM, baik pakaian tradisional atau bentuk lainnya, pemerintah harus menyiapkan tempat yang sudah tinggal mereka datang dan menempatkan di situ. Supaya kelihatannya lebih terencana dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, konsep penataan permanen bukan hanya memperindah acara HUT, tetapi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekonomi masyarakat. Fasilitas yang tidak dibongkar setiap tahun akan memberi pelaku usaha lokal kesempatan beraktivitas sepanjang tahun, tidak hanya saat festival berlangsung. (eb/Adv/DPRD Kubar)


