eksposisiborneo.com, Kutim: Upaya transformasi layanan pendidikan di Kutai Timur memasuki fase baru dengan diluncurkannya Rencana Aksi Daerah (RAD) Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) Tahun 2025 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyampaikan bahwa peluncuran RAD SITISEK merupakan langkah strategis untuk memperkuat efektivitas pelayanan pendidikan.
“SITISEK bukan sekadar proyek perubahan, tetapi kerangka transformasi pendidikan yang menempatkan akses, kualitas, dan keadilan sebagai fokus utama,” ujarnya.
Menurut Mulyono, pelayanan pendidikan harus bergerak dari pola birokratis menuju pola responsif berbasis data.
Melalui SITISEK, setiap proses mulai dari pendataan, intervensi, evaluasi, hingga pelaporan dirancang lebih cepat dan terukur.
Pemerintah juga bekerja sama dengan UNY menjadi elemen penting dalam memperkuat basis akademik dalam program tersebut.
Transformasi ini didorong oleh kondisi ATS di Kutim yang masih tinggi. Dengan jumlah 13.411 anak tidak bersekolah per Maret 2025, Kutim membutuhkan langkah strategis dan perubahan pola kerja.
RAD SITISEK 2025 memuat berbagai peningkatan layanan, seperti pembentukan kelas filial di wilayah terpencil, distribusi bantuan pendidikan yang dipercepat, peningkatan peran guru kunjung, serta pemanfaatan pembelajaran digital
Langkah ini diharapkan mampu mengatasi kendala jarak dan keterbatasan jumlah sekolah.
Mulyono menekankan bahwa transformasi layanan tidak hanya soal program, tetapi juga perubahan pola pikir. Ia meminta seluruh jajaran Disdikbud menerapkan prinsip kerja cepat, tepat, dan berorientasi hasil.
“Pendidikan tidak boleh menunggu. Kita yang harus mendatangi anak-anak itu,” tegasnya.
Launching RAD SITISEK menjadi momentum penting bagi Kutim untuk menegaskan komitmen transformasi pelayanan publik. Pemerintah optimistis program ini akan menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan merata di seluruh kecamatan.(ADV)


