eksposisiborneo.com, Kutim: Pemerataan armada pemadam kebakaran di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menjadi tantangan besar dalam upaya memberikan perlindungan keselamatan yang setara bagi masyarakat.
Kondisi ini berdampak langsung pada kecepatan respons ketika kebakaran terjadi di kecamatan yang jaraknya jauh dari pusat layanan.
Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kutim, Adriansyah, menjelaskan bahwa hingga kini belum seluruh kecamatan memiliki armada pemadam sendiri. Akibatnya, sebagian wilayah masih bergantung pada unit yang berada di Sangatta, dengan jarak tempuh yang cukup jauh.
“Armada kita ini masih jauh dari layak untuk wilayah seluas Kutai Timur,” ujar Adriansyah.
Dalam situasi darurat, keterlambatan kedatangan armada dapat menyebabkan api cepat membesar dan memperparah kerugian masyarakat, terutama di kawasan permukiman padat dan bangunan kayu.
Menurut Adriansyah, idealnya setiap kecamatan memiliki minimal satu unit armada pemadam yang siap digunakan kapan saja. Namun, keterbatasan anggaran daerah menjadi faktor utama yang menghambat pemerataan sarana operasional tersebut.
“Kalau kendaraan pemadam tidak siap, maka keselamatan warga ikut terancam,” tegasnya.
Selain jumlah yang terbatas, Damkarmat Kutim juga menghadapi persoalan usia armada. Sejumlah kendaraan dinilai sudah tua dan rentan mengalami gangguan teknis, sehingga menghambat kecepatan dan efektivitas penanganan kebakaran.
Adriansyah menekankan bahwa pemerataan armada harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih. Armada yang memadai tanpa personel kompeten tidak akan memberikan dampak maksimal terhadap layanan keselamatan.
Ia berharap pemerintah daerah menjadikan pemerataan armada pemadam sebagai bagian dari prioritas pembangunan dan perlindungan kebakaran yang adil merupakan hak seluruh masyarakat Kutai Timur tanpa kecuali.(ADV)


