eksposisiborneo.com, Kubar – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) mengalokasikan total anggaran sekitar Rp145 miliar untuk mempercepat pembangunan akses jalan menuju tiga kampung tertinggal di Kecamatan Bongan.
Program kolaborasi tersebut diarahkan untuk membuka keterisolasian Kampung Deraya, Kampung Tanjung Soke, dan Kampung Gerunggung yang hingga kini masih berstatus kampung tertinggal.
Ketiga kampung itu berada pada koridor jalan yang menghubungkan kawasan Trans Kalimantan hingga wilayah pedalaman Kecamatan Bongan.
Selain tiga kampung tersebut, ruas jalan yang sama juga melintasi Kampung Lemper yang sejak tahun 2025 telah meningkat statusnya menjadi kampung berkembang.
Karena menjadi satu-satunya koridor penghubung bagi masyarakat di empat kampung itu, peningkatan kualitas jalan diperkirakan akan berdampak langsung terhadap lebih dari 700 warga yang menggantungkan aktivitasnya pada akses tersebut.
Bagi masyarakat setempat, ruas jalan itu menjadi jalur utama untuk mengangkut hasil pertanian, memenuhi kebutuhan pokok, serta mengakses layanan pendidikan dan kesehatan. Hanya saja sebagian besar ruas jalan masih dalam kondisi tanah sehingga menyulitkan mobilitas warga, terutama saat musim hujan.
Jadi Salah Satu Prioritas Pembangunan Pemda Kubar
Bupati Kubar Frederick Edwin mengatakan pembangunan infrastruktur menuju kawasan tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah karena berkaitan langsung dengan upaya percepatan pengentasan daerah tertinggal dan pemerataan pembangunan.
“Hingga tahun 2026 masih terdapat tiga kampung berstatus tertinggal di Kabupaten Kutai Barat, yaitu Kampung Deraya, Kampung Tanjung Soke, dan Kampung Gerunggung yang berada di Kecamatan Bongan,” kata Edwin dalam Press Conference di Lantai III Kantor Bupati Kubar, Kamis (4/6/2026).
Menurut Edwin, pemerintah daerah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya penanganan jalan menuju kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir, namun karena keterbatasan anggaran, maka harus dilakukan bertahap.

Sejak 2017 hingga 2025, Pemkab Kubar telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp69,57 miliar untuk rekonstruksi jalan sepanjang 8,25 kilometer, pembangunan satu unit jembatan Bailey, serta sejumlah jembatan darurat yang menghubungkan titik-titik sungai dan anak sungai di sepanjang jalur tersebut.
“Pemenuhan kebutuhan infrastruktur masyarakat menjadi prioritas pemerintah daerah. Karena itu, penanganan ruas jalan menuju kampung-kampung tersebut terus kami lakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran yang tersedia,” ujarnya.
Meski demikian, panjang ruas jalan yang harus ditangani masih cukup besar. Dari total sekitar 45 kilometer jalan yang menghubungkan kawasan Trans Kalimantan hingga Gerunggung, baru sekitar 10,17 kilometer yang telah memiliki konstruksi aspal dan beton.
Sementara sepanjang 34,83 kilometer lainnya masih berupa jalan tanah yang rentan rusak saat musim hujan.
Apresiasi Kepada Pemprov Kalatim
Kondisi tersebut mendorong Pemkab Kubar mengusulkan dukungan pembangunan kepada Pemprov Kaltim guna mempercepat penanganan akses menuju kampung-kampung tertinggal di Kecamatan Bongan.
Pada tahun 2026, Pemkab Kutai Barat mengalokasikan sekitar Rp10 miliar untuk pembangunan jalan beton sepanjang dua kilometer. Penanganan itu kemudian disinergikan dengan dukungan provinsi yang mengalokasikan sekitar Rp135 miliar untuk peningkatan ruas jalan menuju kawasan tersebut.
“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Bapak Gubernur Rudy Mas’ud, atas dukungan dan perhatian yang diberikan terhadap pembangunan infrastruktur di Kubar,” kata Edwin.
Melalui program kolaborasi tersebut, Pemprov Kaltim merencanakan pembangunan konstruksi aspal sepanjang 19,2 kilometer dan agregat sepanjang 14,8 kilometer.
Penanganan dilakukan secara bertahap melalui pembagian segmen pekerjaan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.
“Penanganan ruas jalan tersebut berkolaborasi antara Dinas PUPR Kaltim dan Dinas PUPR Kubar. Mekanisme pembangunan yang ditangani Provinsi disesuaikan dengan status jalan sebagai jalan kabupaten yang setelah selesai di bangun akan di hibahkan kepada Pemkab Kubar,” ujar Ewdin.
Ia menilai, pembangunan ruas jalan tersebut akan menjadi langkah penting untuk membuka akses masyarakat terhadap berbagai layanan dasar yang selama ini masih terbatas akibat kondisi infrastruktur.
“Penanganan ruas konektivitas ini akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pelayanan publik, baik pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi maupun aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan akses jalan yang lebih baik akan mempermudah mobilitas warga, memperlancar distribusi barang dan hasil produksi masyarakat, serta meningkatkan kualitas pelayanan pemerintah hingga ke wilayah pedalaman.
Buka Keterisolasian Wilayah
Meski penyempurnaan ruas jalan masih akan dilanjutkan secara bertahap oleh Pemkab Kubar tahun 2027, Edwin menegaskan pembangunan yang dilaksanakan tahun ini mampu mengakhiri keterisolasian tiga kampung tertinggal di Kecamatan Bongan.
“Itu sudah membuka isolasi ke kampung-kampung tersebut. Yang sebelumnya masih berupa jalan tanah akan ditingkatkan menjadi aspal dan agregat,” ujarnya.
Ia berharap pembangunan yang dilakukan secara bertahap dapat mempercepat peningkatan status kampung di Kubar. Saat ini terdapat 190 kampung di wilayah tersebut yang diharapkan terus berkembang menuju kategori kampung maju hingga mandiri seiring meningkatnya akses infrastruktur dan pelayanan dasar masyarakat.
Dengan terbukanya akses transportasi yang lebih baik menuju Deraya, Tanjung Soke dan Gerunggung, pemerintah optimistis kesenjangan pembangunan antarwilayah dapat terus ditekan.
Di sisi lain, masyarakat di kawasan pedalaman diharapkan memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. (Adv/eb/002)


