eksposisibroneo.com, Kubar – Potensi kerajinan berbahan daur ulang plastik di Kampung Mendika, Kecamatan Damai, mendapat perhatian khusus dari Bupati Kutai Barat (Kubar), Frederick Edwin, saat menghadiri kegiatan Verifikasi Lapangan Tim Penggerak PKK Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam rangka Lomba Gelari Pelangi PKK, Sabtu 13 Juni 2026.
Dalam kegiatan itu, Bupati Edwin, meninjau langsung berbagai produk kerajinan yang dipamerkan kelompok usaha masyarakat binaan PKK. Produk-produk tersebut tidak hanya menampilkan kearifan lokal, tetapi juga memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.
Ia menilai inovasi tersebut, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi permasalahan sampah plastik yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
“Ini bagus, selain menggerakkan ekonomi juga dapat mengurangi limbah sampah, terutama plastik. Tentu ini juga kita lihat prospeknya cukup bagus untuk UMKM,” kata Bupati.
Menurutnya, pengembangan usaha berbasis daur ulang tidak hanya menciptakan peluang pendapatan baru bagi masyarakat, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Jadi ini bagus dikembangkan, baik di Kampung Mendika ini maupun Kutai Barat pada umumnya,” ucap Bupati.
Jadi Daya Tarik Tersendiri
Salah satu kelompok yang menampilkan hasil karya dalam kegiatan tersebut adalah Kelompok Perajin Kawasan Percontohan Pangan Lestari (KP2L) Kecamatan Damai. Mulai dari perlengkapan tradisional hingga produk berbahan daur ulang.
Ketua Kelompok Perajin KP2L Kecamatan Damai, Lidiya Lintaian, menjelaskan, produk yang dihasilkan kelompoknya cukup beragam dan telah dipasarkan kepada masyarakat, termasuk bagi pengunjung yang datang ke Kampung Mendika.
“Yang kita jual ada seraung, tas, topi, baju sarut, baju tumper, dan lain-lain termasuk produk daur ulang seraung dari bahan plastik ini,” ujar Lidiya.
Ia mengatakan, produk berbahan daur ulang plastik menjadi salah satu yang menarik perhatian karena memadukan nilai seni, fungsi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, harga yang ditawarkan juga masih terjangkau sehingga memiliki peluang pasar yang cukup baik.
“Khusus yang daur ulang ini, harga paling mahal Rp100 ribu,” ucap Lidiya.
Melalui verifikasi lapangan tersebut, Kampung Mendika menampilkan berbagai inovasi pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan aspek ekonomi dan kepedulian lingkungan.
Pemanfaatan limbah plastik menjadi produk kerajinan bernilai jual menjadi salah satu potensi yang diharapkan terus berkembang di Bumi Tanaa Purai Ngerimaan. (Adv/eb/003)




