DLH Kutim Jelaskan Empat Level Adiwiyata, Dorong Konsistensi Sekolah Bangun Budaya Lingkungan

By eksposisi borneo Nov 18, 2025
11
DLH Kutim
Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kutim, Tanti Nur. (dok.eb)

eksposisiborneo.com, Kutim: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat pemahaman sekolah terkait mekanisme terbaru Program Adiwiyata yang kini dibagi ke dalam empat level utama.

Sosialisasi ini dilakukan untuk mendorong seluruh satuan pendidikan membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.

Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kutim, Tanti Nur, menjelaskan bahwa setiap level memiliki indikator spesifik yang harus dipenuhi sekolah.

Empat Level Utama Adiwiyata

Level 1 menekankan registrasi melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA), penyusunan dokumen perencanaan empat tahun, hingga evaluasi awal.

“Level 1 adalah fondasi. Jika tahap awalnya kuat, maka keberlanjutan program akan lebih mudah dibangun,” paparnya.

Level 2 melibatkan pembinaan oleh DLH kabupaten/kota untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta pembinaan oleh DLH provinsi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).

Tahapan ini menilai implementasi tahun kedua yang sering berfokus pada dokumentasi dan sinkronisasi program sekolah.

Pada Level 3, penilaian dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melibatkan lintas kementerian dan mewajibkan sekolah membina dua sekolah lain.

Mekanisme ini menjadi bentuk perluasan dampak positif dari sekolah yang sudah lebih maju dalam implementasi lingkungan.

Sementara itu, Level 4 atau Adiwiyata Mandiri menjadi tingkat tertinggi. Penilaiannya dilakukan langsung oleh KLHK dan menekankan keberlanjutan program, replikasi praktik baik, serta integrasi budaya lingkungan di seluruh aktivitas sekolah.

Adiwiyata Bagian Dari Karakter Sekolah

DLH Kutim menegaskan pentingnya konsistensi sekolah dalam setiap tahapnya. Menurut Tanti, tanpa konsistensi, dokumen dan pelaksanaan program sering tidak sejalan.

“Kami selalu ingatkan bahwa Adiwiyata bukan hanya kegiatan tahunan, tapi bagian dari karakter sekolah,” ujarnya.

DLH Kutim juga memastikan akan memperkuat pendampingan teknis, termasuk monitoring berkala dan bimbingan penyusunan dokumen.

Hal ini dilakukan agar sekolah tidak hanya mengejar sertifikat, tetapi membangun budaya lingkungan secara menyeluruh.

DLH Kutim berharap lebih banyak sekolah memahami alur dan siap mengikuti proses evaluasi.

“Kami ingin bangun ekosistem pendidikan yang peduli lingkungan, dan itu dimulai dari konsistensi setiap sekolah,” pungkasnya.(ADV)

BERITA TERKAIT