eksposisiborneo.com, Mahulu – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), tidak hanya diarahkan untuk memperkuat pasokan energi, tetapi juga membuka akses darat baru menuju kawasan perbatasan Kalimantan Timur (Katim) dan Kalimantan Utara (Kaltara).
Melalui proyek tersebut, dibangun jalan sepanjang 122 kilometer yang dilengkapi 54 jembatan sebagai infrastruktur pendukung kawasan.
Direktur Keuangan PT Tujuan Mulia Makmur (PT TMM), City Jamiah, mengatakan pembangunan jalan dan jembatan menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur yang mendukung keberadaan PLTA Batoq Kelo.
Infrastruktur tersebut sekaligus disiapkan untuk menunjang mobilisasi selama pembangunan hingga pembangkit nantinya beroperasi.
Jalur sepanjang 122 kilometer itu akan menghubungkan kawasan proyek dengan wilayah yang mengarah ke Kaltara. Di sepanjang jalur tersebut, PT TMM menyiapkan 54 jembatan, termasuk satu konstruksi yang memiliki panjang sekitar 120 meter untuk melintasi Sungai Mahakam.
“Pembangunan jalan dan jembatan ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan yang mendukung proyek PLTA. Infrastruktur tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi konektivitas wilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Jamiah, Senin (27/7/2026).
Bagi PT TMM, pembangunan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari manfaat jangka panjang proyek Batoq Kelo. Jalan dan jembatan yang dibangun tidak hanya diperlukan selama tahap konstruksi, tetapi diharapkan dapat menunjang pergerakan orang dan barang serta membuka akses menuju kawasan yang selama ini memiliki keterbatasan konektivitas.
Pembangkit Listrik PT TMM akan Dihibahkan kepada PLN
Sedangkan, PLTA Batoq Kelo sendiri dirancang dengan kapasitas 300 megawatt dan nilai investasi sekitar Rp13 triliun. Setelah pembangunan selesai, pengelolaan pembangkit akan dilakukan PT TMM selama 30 tahun, sesuai masa kerja sama sebelum aset tersebut diserahkan kepada PT PLN (Persero).
“Setelah masa kerja sama berakhir, pembangkit tersebut akan diserahkan kepada PT PLN (Persero) sebagai aset negara untuk selanjutnya dikelola oleh perusahaan tersebut,” ujar Jamiah.
Sementara itu, dari sisi pemerintah daerah, Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, melihat perkembangan akses menuju kawasan PLTA sebagai peluang penting bagi masyarakat pedalaman.
Menurutnya, peningkatan akses darat dapat memberikan alternatif mobilitas bagi masyarakat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan transportasi.
Suhuk mengatakan, telah meninjau kondisi ruas tersebut bersama Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala. Harapannya, pembangunan akses tersebut dapat terus dipercepat karena manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan kepentingan proyek, tetapi juga kebutuhan masyarakat di wilayah pedalaman.
“Puji Tuhan aksesnya sudah lumayan bagus. Harapan kita pihak PLTA bisa lebih menggenjot lagi pembangunannya. Kasihan juga masyarakat, khususnya di Kampung Memahak, yang sangat memerlukan jalan itu,” kata Suhuk.
Dikatakan, keberadaan akses itu menjadi penting bagi Kampung Memahak dan kawasan sekitarnya yang membutuhkan konektivitas darat yang lebih baik. Pemerintah daerah berharap pembangunan infrastruktur dapat terus berkembang sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Dengan pembangunan PLTA dan infrastruktur pendukungnya, proyek Batoq Kelo berpotensi membawa perubahan pada dua sisi sekaligus, yakni memperkuat sektor energi dan membuka akses antarwilayah. (Adv)


