eksposisiborneo.com, Kubar – Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menekankan pentingnya sikap arif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di tengah keberagaman. Menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup tanpa diiringi kebijaksanaan dalam menyikapi persoalan.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin Umar dalam Dialog Kebangsaan, di Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Sabtu (4/7/2026), yang diikuti santri, tokoh agama, unsur pemerintah, dan masyarakat.
Ia mengatakan, masyarakat perlu membangun karakter yang tidak mudah menyalahkan pihak lain dalam menghadapi persoalan kehidupan. Sikap arif dinilai mampu menghadirkan solusi yang lebih menenangkan dan membawa kebaikan bersama.
“Orang yang suka mencari kelemahan orang lain pertanda masih harus belajar. Tapi kalau orang yang sudah tidak menyalahkan orang lain, tidak juga menyalahkan diri sendiri, dia menyelesaikan persoalan tanpa menepuk dada, maka orang itu sudah selesai belajar,” kata Nasaruddin Umar.
Menurutnya, masih banyak orang yang memiliki kecerdasan, namun belum diimbangi dengan kebijaksanaan dalam bersikap. Karena itu, pendidikan karakter perlu terus diperkuat di berbagai lingkungan, termasuk keluarga, sekolah, dan lembaga keagamaan.
Ia menegaskan, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kebijaksanaan dalam bersikap.
“Orang arif, orang pintar di Indonesia banyak, tapi orang arifnya yang masih perlu kita perbanyak. Pesantren itu melahirkan orang arif dan sekaligus orang pintar,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Melalui penguatan nilai-nilai kebijaksanaan tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan sehingga kehidupan berbangsa tetap harmonis di tengah keberagaman. (eb/002)


